Ngobrol Bareng Pak Mamat & Pangkas Rambut Legendarisnya

Bandung - TemanBaik, ada tempat pangkas rambut legendaris nih di Pasar Baru Bandung. Namanya Pangkas Rambut Suka dan dijalankan seorang diri oleh pemiliknya, Mamat (80). Seperti apa sih tempat dan ceritanya?

Sejak 1989, Mamat sudah menekuni profesi ini. Dua belas tahun kemudian, tepatnya pada medio 2000, ia membuka lapak di Jalan Belakang Pasar. Lapak pangkas rambut Mamat terlihat jelas jika kamu berada di toko rempah Babah Kuya, di belakang Pasar Baru.

Saban pagi, ia membuka lapak yang terletak di depan toko dan bersebelahan dengan warung nasi rames tersebut. Aneka peralatan pangkas rambut, mulai dari gunting, mesin cukur, sisir dengan berbagai ukuran, cermin, bangku, dan meja sudah disediakan sejak pukul 07.00 WIB. Lapaknya baru tutup pukul 17.00 WIB.

Kendati letaknya di belakang pasar yang terkesan ramainya tertutup hiruk-pikuk aktivitas jual-beli, namun jangan salah, Pangkas Rambut Suka yang dijalankan Mamat tidak pernah sepi pengunjung, khususnya sebelum masuk era pandemi. Dalam sehari, ia bisa memangkas rambut 10 hingga 15 orang. Tarif pangkas rambut yang dipatoknya berkisar Rp10 ribu hingga Rp15ribu.

"Ada banyak pelanggan tetap. Biasanya dari orang-orang dewasa. Kadang nih, menariknya, pelanggan itu berasal dari orang yang awalnya potong di salon, terus enggak puas, dia benerin potongannya di saya dan cocok," katanya kepada Beritabaik.id, Rabu (6/10/2021).

Baca Ini Juga Yuk: Barber Mini, Pangkas Rambut Unik di Sariwangi

Sejak menjalankan usaha pangkas rambut di penghujung dekade 1980-an, Mamat sudah terbiasa dengan lapak luar ruangan. Lapak sebelumnya yang digunakan sejak 1989 hingga 2000 pun letaknya di luar ruangan, serupa dengan lapak Mamat hari ini. Ia bercerita lapak lamanya itu berada di kawasan Pasar Lama.

Pria kelahiran 1941 ini juga bercerita, awal mula dirinya terjun menjadi pemangkas rambut, atau, boleh kita sebut Pak Mamat ini seorang kapster, ya. Dulunya, ia berjualan sayur di kawasan Pasar Lama. Lalu, suatu hari, seorang temannya meminta dipotongkan rambut oleh Mamat.

"Tahun 88 apa 89 ya, saya lupa. Awalnya sih ada temen, sesama penjual sayur. Dia minta tolong potongin rambutnya. Ya, kebetulan aja saya belanja peralatan (pangkas rambut) kayak gunting dan sisir," kenangnya.

Permintaan seorang teman itu kemudian membuatnya banting setir dari penjual sayur menjadi pemangkas rambut. Saat itu, ia juga mengenang keadaan ekonominya yang sedang sulit, sehingga tak punya modal terus berjualan sayur. Ia terus belajar memangkas rambut, sampai akhirnya tidak terasa 32 tahun ia habiskan hari dengan menjalani profesi ini.

Menjawab pertanyaan kami soal perbedaan menjadi kapster di era 1990-an dan hari ini, ia menjawab sebetulnya pekerjaan seorang kapster sama saja; memangkas rambut konsumen. Hanya saja, konsumen pangkas rambut hari ini punya referensi gaya rambut lebih variatif. Oleh karena itu, Mamat juga enggak ketinggalan belajar gaya rambut terbaru untuk bisa melayani konsumen dengan maksimal.

"Kalau sekarang kan orang pada pegang hape. Nah, (konsumen) itu nunjukkin ke saya, mau dipotong modelan begini. Ya, tugas saya sih mengikuti keinginan konsumen, mendekati contoh yang dia kasih, semampu saya," tuturnya.

Baca Ini Juga Yuk: Unik! Barbershop dengan Tema Penjara

Hantaman pandemi COVID-19 diakui Mamat sangat berpengaruh bagi kelangsungan ekonominya. Jika sebelum era pandemi, ia bisa memangkas rambut 10 hingga 15 konsumen dalam sehari, kini jumlah tersebut ikutan terpangkas menjadi tiga hingga lima orang saja.

Selain itu, layanan jasa cukur ke rumah yang sempat dibuka Mamat tak lagi dijalankannya. Sebelum era pandemi, Mamat juga kebanjiran pesanan memangkas rambut ke rumah pelanggannya. Ia mengaku khawatir dengan penyebaran virus korona apabila harus berinteraksi ke rumah-rumah pelanggannya.

Apalagi usianya pun telah memasuki masa senja, 80 tahun. Oleh karenanya, ia meminta pelanggannya datang saja ke lapak di Jalan Belakang Pasar apabila ingin dipangkas.

Kendati berusia 80 tahun, Mamat masih beraktivitas layaknya anak muda. Saban hari ia bekerja memangkas rambut, saban akhir pekan ia pulang ke kampung halamannya di Wado, Sumedang. Frekuensi pulang kampungnya bervariasi, antara seminggu atau dua minggu sekali.

"Anak saya semua (tinggal) di Sumedang. Cucu saya pun banyak, semua tinggal di sana. Hari Jum'at ini kemungkinan saya bakal pulang kampung dulu," katanya.

Sebagai penutup, Mamat berharap dirinya terus diberikan kesehatan agar tetap bisa menjalankan rutinitasnya sehari-hari. Selain itu, ia juga berharap bisa punya modal untuk berjualan lagi. Sehingga, pendapatannya bertambah selain dari pendapatan utama sebagai pemangkas rambut alias kapster.

TemanBaik, barangkali kamu mau mencoba sensasi potong rambut dengan suasana keramaian pasar, kamu bisa datang ke lapak Pak Mamat mulai pukul 07.00 WIB. Jangan lupa terapkan protokol kesehatan saat beraktivitas di luar ruangan ya!


Foto: Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler