Cerita dari SLB yang Kembali Jalani Belajar Tatap Muka

Bandung - TemanBaik, secara bertahap sekolah di berbagai daerah mulai memberlakukan pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT). Ini juga dilakukan di sekolah luar biasa (SLB), salah satunya di SLBN A Kota Bandung.

Di sini, PTMT digelar sejak 13 September 2021. Siswa yang hadir dibatasi dan tentunya diberlakukan protokol kesehatan ketat. Seperti apa sih sekolah tatap muka di tempat para siswa disabilitas sensorik netra ini belajar?

Selain memakai masker, sebelum masuk kelas, para siswa wajib dicek suhu tubuh dan mencuci tangan. Di kelas, para siswa juga duduk berjarak satu sama lain.

Menurut Yuyun Supriatini, salah seorang guru SLBN A Kota Bandung, PTMT yang diberlakukan saat ini hanya bagi siswa kelas 12 SMA LB. Setelah itu, siswa kelas 11 dan 10 akan masuk bertahap di pekan-pekan berikutnya, lalu dilanjutkan siswa tingkat SMP dan SD.

Kegiatan belajar pun dilakukan penyesuaian. Saat ini, satu sesi pembelajaran di kelas yang normalnya 45 menit diubah menjadi 40 menit.

Baca Ini Juga Yuk: Cerita dari Simulasi Sekolah Tatap Muka di SLB

Meminimalisir Sentuhan Fisik
TemanBaik, tahu enggak jika sentuhan fisik di SLB pada umumnya sangat dibutuhkan? Cara ini jadi salah satu ciri khas di berbagai SLB. Di SLBN A Kota Bandung juga melakukan hal serupa. Seringkali, saat mengajar, guru menyentuh atau memandu siswa secara fisik, khususnya menggunakan tangan.

"Ya, sangat penting bagi tunanetra, karena itu salah satu cara komunikasinya. Jadi, di berbagai sekolah anak kebutuhan khusus, sentuhan itu penting, tapi di tunanetra amat sangat penting," ujar Yuyun saat ditemui di lokasi, Rabu (15/9/2021).

Sentuhan fisik membuat pola pembelajaran jadi lebih efektif. Sebab, mengajar anak berkebutuhan khusus memerlukan pendekatan dan cara khusus. Sehingga, guru berusaha dekat dengan siswanya.

Apalagi, di SLBN A Kota Bandung yang merupakan sekolah teman netra alias tunanetra, sentuhan jadi salah satu jurus jitu menyampaikan pelajaran. Dengan begitu, instruksi atau pelajaran yang disampaikan bisa lebih mudah diserap siswa.

Khusus untuk siswa kelas 12 tingkat SMA LB yang sudah menjalani PTMT, sentuhan fisik sudah sangat diminimalisir. Selain karena mematuhi protokol kesehatan, siswa yang mengikuti PTMT kebanyakan menggunakan komputer atau laptop. Sehingga, guru lebih banyak memberi instruksi daripada melakukan sentuhan fisik.

Namun, hal berbeda akan berlaku pada siswa lainnya, terutama siswa SMP dan SD. Sebab, ada banyak mata pelajaran yang memang memerlukan sentuhan fisik agar lebih mudah dicerna siswa.

Salah satu solusi yang akan diambil adalah guru memakai sarung tangan saat mengajar. Sehingga, saat terpaksa bersentuhan fisik dengan siswa dirasa akan jauh lebih aman.

"Harus pakai sarung tangan, tapi itu pun jadinya akan kurang sensitif, beda. Tapi demi penjagaan (kebaikan bersama), itu salah satu solusi," jelas Yuyun.

Baca Ini Juga Yuk: Menyelami Perasaan Guru saat Bisa Melihat Siswa Lagi

Khawatir Berbalut Pikiran Positif
Bagi Yuyun dan para guru lainnya, belajar tatap muka memberi kebahagiaan tersendiri. Sebab, mereka sudah lama tidak bertemu dengan para siswa. Apalagi, kedekatan para guru dan siswa di sini sudah sangat erat, bahkan seperti keluarga.

Di sisi lain, belajar tatap muka juga membuat guru lebih leluasa dan mudah saat mengajar. Ini berbeda dengan mengajar daring yang memiliki banyak kendala. Sebab, jadi guru di sekolah umum saja kerepotan saat mengajar daring, di SLB jauh lebih repot.

"Otomatis kalau kegiatan pembelajaran tanpa tatap muka dengan tanpa melakukan kontak fisik (daring), itu sangat beda sekali. Instruksinya berbeda, kemudian semangatnya juga berbeda, dan bagaimana keberhasilannya juga tidak terkur benar," tutur Yuyun.

"Jadinya, kalau bagi ibu lebih enak sih memang tatap muka, ya. Karena dengan tatap muka, anak akan benar-benar belajar (lebih efektif), realita dengan guru tuh tercapai, dari mulai tujuan pembelajaran sampai ke evaluasi itu juga terukur," jelasnya.

Meski begitu, kegiatan belajar tatap muka juga punya konsekuensi tersendiri. Sebab, risiko terpapar COVID-19 bisa dibilang lebih terbuka meski protokol kesehatan diberlakukan ketat. Sudah banyak contoh kan orang yang ketat menerapkan protokol kesehatan pada akhirnya tetap ada yang terpapar saat lengah?

Ini tentu jadi kekhawatiran tersendiri bagi Yuyun dan para guru SLBN A Kota Bandung. Namun, rasa khawatir dan takut dan membuat semangat mengajar surut. Sebaliknya, di balik risiko yang ada, pikiran positif dikedepankan.

"Ya, sama lah ada kekhawatiran juga. Tapi, kalau ibu mah berhusnuzan (berprasangka baik) aja, pasti sesuatu itu berdasarkan skenario Allah. Apapun yang terjadi, pasti sesuai rencana-Nya," ungkap Yuyun.

Sehat-sehat selalu ya para guru dan siswa di manapun berada. Tetap semangat dan berpikir positif menjalani kegiatan belajar-mengajar di tengah pandemi ini. Jangan bosan juga menerapkan protokol kesehatan dengan disiplin.

Kamu juga ya, TemanBaik, tetap konsisten dengan protokol kesehatan!


Foto: Djuli Pamungkas/Beritabaik.id


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler