Zakat Harus Dikemas Kekinian dan Produktif, Seperti Apa?

Bandung - Bagi kaum muslim, zakat memang wajib. Tapi pengelolaan zakat di era revolusi industri 4.0 seperti sekarang, idealnya diesuaikan dengan perubahan zaman loh. Selain beramal, konsep zakat juga harus dikemas dalam program yang lebih produktif. Ide brilian kan?

Mengapa zakat di era milenial harus produktif? Menurut Direktur Eksekutif Forum Zakat (FOZ) Agus Budiyanto, gerakan baru ini berkaitan dengan lahirnya bonus demografi Indonesia. Ini juga keuntungan, karena populasi usia produktif dinegara kita lebih banyak dibanding usia non produktif.

"Gerakan zakat tak hanya sebagai ekosistem yang besar, tetapi harus menawarkan solusi baru. Movement ini juga harus dibangun lewat kekuatan kolaborasi dengan stakeholder. Enggak hanya berhubungan dengan sosial islamic finance, tetapi juga Kementerian dan lembaga lainnya," ujar Agus di sela kegiatan Indonesia Zakat Summit 2018 di Hotel Horison Bandung, Kamis (20/12/2018).

Baca Ini Juga Yuk: 800 Warga Terima Bantuan Zakat Lewat BAZNAS Bandung

Ia menuturkan, pada konferensi yang berlangsung tiga hari tersebut, agenda pentingnya fokus pada Konferensi Zakat Nasional (KZN) dan CEO LAZ Forum. Selain menjadi silaturahmi para pegiat zakat, ada juga pertemuan CEO LAZ Forum yang tujuannya untuk penguatan lembaga zakat di tanah air.

Dikatakan Agus, tahun 2019 antar lembaga zakat harus diperkuat dengan sinergitas baik swasta dan pemerintah. Bahkan lewat Forum ini juga harus mampu meningkatkan kesadaran kaum milenial dalam berzakat.

"Sinergitas kebangkitan zakat ini tak hanya membawa keberkahan tapi bisa menciptakan ide - ide baru yang lebih produktif. Misalnya wakaf produktif, dengan pengelolaan lahan pertanian, pembangunan rumah sakit dan sarana lain yang bermanfaat bagi umat," pungkasnya.



Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler