Yuk, Pahami Perbedaan Istilah Disabilitas dan Difabel

Bandung - Istilah penyandang cacat secara perlahan mulai ditinggalkan untuk menyebut seseorang yang memiliki perbedaan kondisi fisik maupun mental. Ada dua istilah yang selama ini digunakan untuk menggantikan penyandang cacat, yaitu disabilitas dan difabel.

Tapi, apakah TemanBaik tahu perbedaan istilah disabilitas dan difabel? Yuk, pahami perbedaannya.

Istilah disabilitas dan difabel adalah untuk mengganti sebutan penyandang cacat yang cenderung kasar, bahkan merendahkan bagi penderitanya. Tapi, kedua istilah tersebut jelas memiliki perbedaan satu sama lain.

Secara umum, istilah disabilitas berasal dari serapan kata disability atau disabilities yang diartikan ketidakmampuan. Sedangkan difabel berasal dari kata different ability atau kemampuan yang berbeda.

Baca juga: Saat Penyandang Disabilitas Belajar Pengembangan Wirausaha

Andhika Duta Bahari, ahli bahasa dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), mengatakan istilah yang tepat untuk dipakai adalah disabilitas. Apalagi, di tataran internasional yang dipakai adalah istilah disabilitas, bukan difabel. Hal serupa juga berlaku di Indonesia dan perundang-undangan yang ada.

"Disabilitas itu didefinisikan sebagai ketidakmampuan atau adanya kekurangan (fisik atau mental) sehingga ada keterbatasan untuk melakukan sesuatu. Kesepakatan di dunia internasional juga menggunakan istilah disabilitas," kata Andhika kepada BeritaBaik.

Tapi kemudian muncul istilah difabel yang secara umum memiliki arti lebih halus. Itu disebabkan istilah difabel lebih memandang seseorang berdasarkan kemampuannya yang berbeda karena kondisi fisik atau mentalnya dibanding orang yang secara fisik maupun mentalnya lengkap.

Contoh sederhananya, seseorang yang tidak memiliki tangan, dia bisa mahir memainkan gitar dengan menggunakan kakinya. Itu menggambarkan bahwa penyandang disabilitas bisa melakukan sesuatu seperti orang 'normal', tapi dengan cara yang berbeda.

Berita foto: Saat Siswa-siswa Disabilitas Bikin Band

Tapi, diitinjau dari segi sosial, penggunaan istilah difabel menurut Andika lebih tepat. Apalagi, penyandang disabilitas juga lebih senang dengan istilah difabel yang memang lebih halus. Tapi, dari segi kaidah bahasa dan keilmuan, istilah difabel tidak tepat digunakan.

"Memang difabel terlihat lebih humanis, tapi ini perspektif yang digunakan adalah perspektif sosial dan itu tidak menggambarkan kejelasan makna (jika ditinjau dari segi bahasa dan keilmuan). Ketika didefinisikan difabel itu kemampuan yang berbeda, berbedanya itu dalam hal apa," jelas Andhika.

Untuk itu, cara yang lebih tepat menggunakan istilah disabilitas dan difabel adalah disesuaikan dengan situasi atau lingkungan. Jika berada dalam konteks kaidah bahasa atau keilmuan, istilah disabilitas lebih tepat digunakan. Tapi, jika dalam konteks kehidupan keseharian, istilah difabel lebih tepat. Apalagi jika TemanBaik sedang berada di lingkungan penyandang disabilitas.

"Kalau dalam bahasa sehari-hari saya kira istilah difabel sudah jadi biasa dan dipahami secara lazim karena adanya pergeseran paradigma dari orientasi medis ke orientasi sosial. Tapi untuk komunikasi keilmuan, istilah difabel akan jadi masalah karena konvensinya adalah disability atau disabilitas," ucap Andhika.

Baca juga: Serunya Nonton Film Bareng Sahabat Difabel Netra

Koordinator Forum Perjuangan Difabel (Forpadi) Jabar Djumono juga sependapat jika istilah disabilitas dan difabel ditempatkan secara berbeda. Istilah disabilitas sebaiknya digunakan dalam tataran kaidah keilmuan. Sedangkan difabel digunakan untuk istilah keseharian.

Menurutnya, istilah difabel menempatkan penyandang disabilitas sebagai seseorang yang memiliki kemampuan seperti orang lain, tapi kemampuan dan cara yang digunakannya berbeda. Sedangkan disabilitas lebih merujuk pada ketidakmampuan melakukan sesuatu karena keterbatasan fisik atau mental.

"Kita berharap masyarakat juga memahami perbedaan istilah ini. Difabel itu memiliki kemampuan berbeda, ada sisi pandangan respek yang lebih dengan menggunakan istilah itu. Itu berbeda dengan disabilitas yang lebih memandang seseorang itu tidak memiliki kemampuan," tutur Djumono.


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler