Fashion Etnik Selera Muda di B-Craft 2018

Bandung - Untuk lebih mengenalkan produk etnik dan wastra Nusantara, Trans Studio Mall (TSM) Bandung berkolaborasi dengan Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) menggelar pameran B-Craft 2018. Event ketiga ini diselenggarakan di Atrium TSM mulai tanggal 20-26 Agustus 2018.

Ada yang istimewa dalam B-Craft tahun ini. Selain mengusung karya prestius seperti tenun dan batik tulis, pameran juga banyak menghadirkan karya fashion anak muda yang lebih kasual dan berkonsep ready to wear. Sekretaris Jenderal ASEPHI Baby Jurmawati Djuri mengatakan, untuk mengikuti tren pasar, ASEPHI mulai melirik peluang baru di pasar fashion milenial.

"Selama ini produk UMKM ASEPSI memang didominasi produk couture atau karya etnik tradisional dengan pangsa pasar mereka yang berusia matang. Untuk mempromosikan lebih luas produk etnik, kami menggali sisi fashion tradisional yang konsepnya disukai kalangan muda," ujar Baby seusai membuka B-Craft di TSM, Senin (21/8/2018).

Baca juga: Tampil Cantik saat Idul Adha dengan Jilbab Voal Berdesain Simpel

Pada pameran tahun ini, ASEPHI menghadirkan 60 booth UMKM yang dibagi tiga kategori yakni fashion, aksesori dan cendera mata. Baby menegaskan, seluruh brand yang dihadirkan di B-Craft kali ini sudah melewati tahap penyeleksian dari Badan Pengurus Pusat ASEPHI. Selain mumpuni dari sisi kualitas, produk yang dipamerkan juga harus unik dan punya ciri khas tersendiri.

"Enggak semua produk bisa masuk ke B-Craft karena pertimbangan kami tetap pada kualitas. Dari total anggota kami yang mencapai 2.000 pelaku UMKM, hanya 60 brand yang lolos seleksi," bebernya.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Bandung Atalia Praratya Kamil menambahkan, lB-Craft menjadi salahsatu wadah promosi potensial untuk mengenalkan produk etnik kepada masyarakat luas. Tak hanya di dalam negeri, produk fashion, aksesori dan cendera mata ini juga harus memperkuat pasar di mancanegara.

"Produk etnik asal Indonesia itu punya daya tarik tersendiri di luar negeri. Berkaca dari pengalaman saat pameran produk di Rusia, ternyata karya aksesori handmade itu sangat disukai orang - orang disana. Saat produk habis, mereka ternyata masih penasaran untuk membeli produk selanjutnya," beber Atalia.

Ia berharap, pameran serupa bisa lebih banyak lagi melibatkan pelaku UMKM yang berkarya di bidang etnik. Demikian juga dari sisi kualitas, wastra nusantara seperti batik,tenun, ikat, sulam, bordir dan sejenisnya harus mampu meningkatkan daya saingnya di tingkat global.


Belum Ada Komentar
Baca Lainnya
Berita Baik Terpopuler