• Kamis, 6 Oktober 2022

11 Mei 2022, Mengenang 108 Tahun Kelahiran Komposer Masyhur Ismail Marzuki

- Rabu, 11 Mei 2022 | 11:38 WIB
 (dok. Wikimedia Common)
(dok. Wikimedia Common)

TemanBaik, banyak dari kita tentu mengenal lagu 'Indonesia Pusaka', 'Halo-halo Bandung', atau 'Juwita Malam'. Dua dari tiga  lagu tersebut menjadi lagu nasional dan sering hadir di banyak acara kenegaraan. Tapi,  tahukah kita siapa penciptanya? Ya, lagu-lagu tersebut adalah gubahan dari seorang komponis masyhur Indonesia, Ismail Marzuki.

Ismail Marzuki dikenal sebagai pencipta sederet lagu nasional Indonesia. Seniman berdarah Betawi, lahir pada 11 Mei 1914. Jika beliau masih ada, pada tahun 2022 ini ia genap berusia 108 tahun. Sepanjang usianya, Ismail Marzuki sangat produktif dan berhasil menciptakan banyak lagu yang masih dinyanyikan hingga saat ini.

Atas karya-karyanya yang masyhur, sebagai penghargaan namanya diabadikan menjadi salah satu pusat kesenian di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, yang kita kenal sebagai Taman Ismail Marzuki (TIM).

Nama aslinya adalah Ismail, sementara Marzuki diambil dari nama ayah kandung yang membesarkannya. Ibu Ismail diketahui telah meninggal sejak ia masih kecil. Ismail sendiri memiliki darah keturunan Betawi dan tinggal di daerah Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Sang ayah yang memiliki bengkel juga bekerja sebagai pemain rebana yang biasa dinamakan seni berdendang.

Dikutip dari laman wikipedia, Ismail Marzuki memulai kariernya sejak usia remaja. Di tahun 1923, Ismail bergabung dalam perkumpulan musik Lief Java yang sebelumnya bernama Rukun Anggawe Santoso. Melalui perkumpulan tersebut bakat Ismail Marzuki terasah sebagai instrumentalis, penyanyi, dan penyair lagu.

Baca Juga: Elephant Kind akan Tampil di The Alternative Escape 2022, Brighton

Pada usia usia 17 tahun, untuk pertama kalinya ia berhasil mengarang lagu "O Sarinah” pada tahun 1931. Ismail mempunyai ketertarikan yang mendalam pada bidang seni. Tahun 1936, Ismail memasuki perkumpulan orkes musik Lief Java sebagai pemain gitar, saxophone, dan harmonium pompa.

Pada tahun 1940, Ismail Marzuki menikah dengan Eulis Zuraidah, seorang primadona dari klub musik yang ada di Bandung di mana Ismail Marzuki juga tergabung di dalamnya. Pasangan ini kemudian mengadopsi seorang anak bernama Rachmi, yang juga masih keponakan Eulis.

Pada masa penjajahan Jepang, Ismail Marzuki turut aktif dalam orkestra radio pada Hozo Kanri Keyku Radio Militer Jepang. Ketika masa pendudukan Jepang berakhir, Ismail Marzuki tetap meneruskan siaran musiknya di RRI. Selanjutnya ketika RRI kembali dikuasai Belanda pada tahun 1947, Ismail Marzuki yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda memutuskan untuk keluar dari RRI.

Ismail Marzuki baru kembali bekerja di radio setelah RRI berhasil diambil alih. Ia kemudian mendapat kehormatan menjadi pemimpin Orkes Studio Jakarta. Pada saat itu ia menciptakan lagu Pemilihan Umum dan diperdengarkan pertama kali dalam Pemilu 1955.

Selama 27 tahun menjadi komponis, Ismail Marzuki telah menciptakan hingga kurang lebih 250 lagu. Selain itu, ia juga mendapatkan penghargaan seni atas dedikasi, perjuangan dan kecintaannya pada Tanah Air. Salah satunya adalah Piagam Wijayakusuma yang diberikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1961. Terakhir, ia juga diabadikan oleh majalah Rolling Stone Indonesia sebagai salah satu dari The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa pada tahun 2008.

Berikut ini garis waktu penciptaan karya musik Ismail Marzuki selama perjalanan 27 tahun menjadi komponis:

1. Tahun 1931, 'O Sarinah' adalah lagu pertama yang ia cipatakan, yang syairnya dibuat dalam bahasa Belanda.

2. Tahun 1935, sewaktu berusia 21 tahun muncul karyanya dalam bentuk keroncong yang berjudul 'Keroncong Serenata'.


3. Tahun 1936, mencipta 'Roselani', judul ini membawa kita ke suasana romantis alam Hawaii di Samudra Pasifik.

4. Tahun 1937, muncul lagu-lagu yang mengambil latar belakang 'Hikayat 1001 Malam' berjudul 'Kasim Baba'.

5. Tahun 1938, mengisi ilustrasi musik film berjudul 'Terang Bulan'. Di dalamnya ada 3 buah lagu, antara lain 'Pulau Saweba', 'Di Tepi Laut', 'Duduk Termenung'. 

6. Tahun 1939, ia menciptakan sebanyak 8 buah lagu, di mana 2 lagu di antaranya berbahasa Belanda, yakni 'Als de Ovehedeen' dan 'Als’t Meis is in de tropen'. Sedang lagu-lagu berbahasa Indonesianya adalah 'Bapak Kromo', 'Bandaneira', 'Olee lee di Kutaraja', 'Rindu Malam', 'Lenggang Bandung', 'Melancong ke Bali'. Dalam periode ini Ismail belum menciptakan lagu-lagu perjuangan.

7. Selebihnya banyak lagu ciptaan Ismail Marzuki yang kemudian menjadi lagu nasional seperti 'Gugur Bunga', 'Rayuan Pulau Kelapa', 'Halo Halo Bandung', 'Indonesia Pusaka', 'Sapu Tangan dari Bandung Selatan'. Selain itu beberapa lagu gubahannya juga dibawakan ulang oleh sejumlah musisi kenamaan Tanah Air seperti Slank yang membawakan ulang 'Juwita Malam'.

Ismail Marzuki tutup usia pada umur 44 tahun 25 Mei 1958 di kediamannya, kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, karena penyakit paru-paru yang dideritanya. Pada peringatan 100 tahunnya, Komunitas Masyarakat Peduli Indonesia (MPI) merilis sebuah album kompilasi bertajuk ‘Tribute to Ismail Marzuki’ Agustus 2015 lalu.Sebagian dari hasil penjualan albumnya  disumbangkan untuk kegiatan sosial dan keluarga mendiang Ismail.

Editor: Irfan Nasution

Tags

Artikel Terkait

Terkini

3 Pemuda Berbahaya Rilis Single 'Bandar Minyak Tanah'

Jumat, 30 September 2022 | 11:24 WIB

Dhira Bongs Sapa Kembali Penggemar lewat Album Ketiganya

Kamis, 29 September 2022 | 06:40 WIB

Siap-siap, Tahun ini 'Rock in Solo' Kembali Menggelegar!

Minggu, 18 September 2022 | 17:25 WIB

'To Be King', Gebrakan Baru SUR! dengan Formasi Segar

Jumat, 9 September 2022 | 20:45 WIB

15 Tahun Hiatus, The Sastro Siap Kembali Ber'Lari 100'

Jumat, 2 September 2022 | 11:36 WIB
X