Menikmati Magisnya 'Akuna', Hutan Bonsai di Fatumnasi

- Rabu, 20 April 2022 | 12:19 WIB
 (dok. lh5.googleusercontent.com)
(dok. lh5.googleusercontent.com)

TemanBaik, Nusa Tenggara Timur (NTT) selalu menyimpan pesona tersendiri bagi para traveller. Provinsi kepulauan dengan luas daratan 4.734.990 hektare serta luas lautan 15.141.773 ha, ini memiliki 1.192 pulau di dalamnya.

Provinsi dengan empat pulau besar Flores, Sumba, Timor, dan Alor ini kaya akan keanekaragaman hayati yang lengkap. Mulai dari keindahan alamnya, wisata bahari, serta kawasan pegunungan dengan ragam flora dan fauna khas di dalamnya.

Biacara NTT tidak melulu soal Labuan Bajo dan Pulau Komodo saja. Masih banyak hal yang tak kalah indah dan menarik untuk kita kunjungi. Salah satunya adalah  obyek wisata tegakan alam berupa hutan hijau berisi ribuan pohon ampupu atau Eucalyptus urophylla berusia ratusan tahun.

Barisan ampupu ini membentuk kanopi hijau setinggi 2-5 meter dengan ciri khas akar dan batang berbonggol-bonggol besar dan berlekuk-lekuk. Sepintas tanaman ampupu ini seolah telah mengalami proses bonsai. Ranting pohonnya menjulur, bersentuhan dengan pohon ampupu lainnya dengan ukuran daun yang kecil. Pada kondisi ekstrem, pohon ampupu hanya sanggup tumbuh dalam bentuk semak belukar setinggi tak lebih dari 2 meter.

Hutan "bonsai" ampupu ini terletak di Timor, pulau di ujung timur NTT. Hutan berisi pohon ampupu ini tepatnya berada di Desa Fatumnasi, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Baca Juga: Melihat 'Rumah Kurcaci' di Jalur Pantura Rembang


Bagi masyarakat Dawan, suku asli yang mendiami daerah Fatumnasi, hutan bonsai itu disebut dengan nama 'Akuna'. Desa Fatumnasi berada pada ketinggian 1.480 meter di atas permukaan laut serta memiliki pemandangan eksotis berupa perbukitan marmer diselingi padang rumput hijau tempat satwa kuda, sapi, dan rusa timor mencari makan.

Dilansir dari indonesia.go.id, desa dengan koleksi hutan bonsai ini masuk ke dalam kawasan Cagar Alam Mutis seluas 12.315,61 ha sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 3911/MENHUT-VII/KUH/2014 tanggal 14 Mei 2014 tentang Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Provinsi NTT.

Cagar Alam Mutis terletak di dua kabupaten, yakni di TTS dan Timor Tengah Utara (TTU). Di sana terdapat Gunung Mutis, sebuah gunung api dengan ketinggian mencapai 2.427 meter.

Untuk kamu yang ingin berkunjung, hutan bonsai Fatumnasi ini dapat dijangkau dari ibu kota NTT di Kupang melalui jalur darat menuju Kota Soe sejauh 110 km selama 2-3 jam perjalanan. Selanjutnya dari Soe kita menuju ke kota kecil Kapan di Kecamatan Mollo Utara yang berjarak 20 km, sebelum berakhir di Fatumnasi sekitar 17 km kemudian.

Cagar Alam Mutis dan kawasan sekitarnya merupakan daerah terbasah di Pulau Timor. Hal tersebut karena disana memiliki curah hujan tahunan rata-rata 2.000-3.000 milimeter (mm). Kondisi itu cukup tinggi jika dibandingkan di wilayah lainnya di Pulau Timor.

Lamanya bulan basah hingga mencapai 7 bulan dengan frekuensi hujan terjadi pada bulan November sampai Juli, membuat suhu di cagar alam dan hutan bonsai rata-rata berkisar 14-29 derajat Celcius dengan suhu paling ekstrem bisa mencapai 9 derajat celcius. Kelembaban yang dihasilkan sebagai daerah terbasah di Pulau Timor telah menyebabkan spesies lumut jenggot (Usnea sp.) tumbuh subur pada tanaman ampupu di dalam hutan bonsai.

Selain itu, meski siang hari kabut tipis selalu menyelimuti kawasan konservasi ini. Sinar mentari yang menembus antara kabut tipis dam batang pohon tua tersebut menghadirkan siluet cahaya yang indah. Kondisi menjadi daya tarik bagu masyarakat di luar Desa Fatumnasi untuk berkunjung sekaligus berwisata menikmati kawasan paling sejuk di NTT ini.

Menurut Balai Konservasi Sumber Daya Alam NTT, pohon ampupu juga dapat ditemui dalam jumlah kecil di Pulau Flores, Wetar, serta daerah-daerah lain seperti Adonara, Lomblen, dan Pantar. Tetapi vegetasi ampupu terbesar terdapat di kawasan Cagar Alam Mutis di Fatumnasi dengan ciri khas yang tak ditemui di wilayah lain.

Tak hanya ampupu yang mewarnai keindahan Cagar Alam Mutis karena masih ada tanaman lainnya khas dataran tinggi seperti pohon hau besi (Ilex odorata), tune (Podocarpus imbricata), ajaob (Casuarina aquisetifolia), hau solalu (Podocarpus pilgeri).

Kehadiran hutan bonsai ampupu seluas tak lebih dari satu hektar di Fatumnasi ini dapat menjadi alternatif wisata alam favorit tak hanya bagi Kabupaten TTS, juga untuk Provinsi NTT karena keunikannya yang tak ditemukan di wilayah lain di Indonesia. Bagaimana TemanBaik, tertarik untuk berkunjung ke sana?

Editor: Irfan Nasution

Sumber: Indonesia.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengintip Keindahan Kampung Kaligrafi di Kota Bandung

Selasa, 3 Januari 2023 | 15:00 WIB

10 Tips Traveling yang Aman dan Menyenangkan

Sabtu, 26 November 2022 | 08:27 WIB

Mantap! Ada Sikruit RC Baru di Antapani Kidul Bandung

Kamis, 3 November 2022 | 16:36 WIB

5 Tempat Wisata di Jawa Barat Berbalut Cerita Legenda

Minggu, 30 Oktober 2022 | 09:20 WIB
X