Penyakit Kuku dan Mulut pada Hewan Tidak Menular pada Manusia, Ini Cirinya

- Selasa, 10 Mei 2022 | 14:21 WIB
 (dok. Unsplash/ Andy Kelly)
(dok. Unsplash/ Andy Kelly)

TemanBaik, belum lama ini penyakit mulut dan kuku dilaporkan menyerang sedikitnya 1.247 ekor ternak sapi di Jawa Timur.  Terkait hal tesebut, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi S adikin mengatakan, penyakit mulut dan kuku yang menyerang ribuan hewan ternak di Jawa Timur sangat jarang menular ke manusia.

"Kami sudah diskusi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) dan Badan Kesehatan Hewan Dunia (World Organization for Animal Health/OIE) bahwa penyakit mulut dan kuku dominan di hewan, hampir tidak ada yang loncat ke manusia," ujarnya dalam konferensi pers secara daring melalui YouTube Sekretariat Presiden di Jakarta, Senin (9/5/2022) sore.

"Kalau penyakit mulut dan kuku memang adanya hanya di hewan yang berkuku dua. Sangat jarang yang loncat ke manusia. Jadi tidak usah khawatir dari sisi kesehatan manusianya," tegasnya. .

Penyakit mulut dan kuku atau Foot and Mouth Disease (FMD) bukan masalah kesehatan masyarakat, melainkan sepenuhnya masalah kesehatan hewan. FMD dan Aphthae Epizootica adalah penyakit hewan menular bersifat akut yang disebabkan virus tipe A dari family Picornaviridae, genus Apthovirus dengan masa inkubasi 2-14 hari (masa sejak hewan tertular penyakit sampai timbul gejala penyakit).

Meski begitu penting bagi kita untuk mengetahui gejala dan cara penularannya agara mempermudah kita untuk mengurangi risiko dan lebih wasapada. Terlebih bagi kita yang memiliki hewan ternak

Meski tidak menular pada manusia, pada hewan penyakit ini dapat menyebar dengan sangat cepat mengikuti arus transportasi daging dan ternak yang terinfeksi. Akibatnya dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar, selain itu pengendaliannya cukup kompleks karena membutuhkan vaksinasi serta pengawasan terhadap hewan yang terinfeksi secara ketat. Biasanya jenis hewan yang rentan tertular yakni sapi, kerbau, unta, gajah, rusa, kambing, domba dan babi.

Baca Juga: Geger Hepatitis Akut, Menkes Minta Masyarakat Jaga Kebersihan Diri

Dilansir dari laman pertanian.go.id, cara penularannya pun bermacam-macam. Yang paling umum adalah kontak langsung maupun tidak langsung dengan hewan terinfeksi melalui droplet, leleran hidung, atau serpihan kulit.

Selain itu bisa juga dengan vektor hidup yang terbawa oleh manusia, atau bukan vektor hidup yang terbawa mobil angkutan, peralatan, alas kandang dan lainnya. 
Di daerah tertentu beriklim khusus, penyebaranya juga dapat tersebar melalui angin, daerah 

Gejala Klinis
Gejala klinis pada hewan yang terinfeksi berbeda-beda, tergantung pada jenis hewannya. Seperti pada sapi, jika terinfeksi biasanya sapi tersebut akan mengalami Pyrexia (demam) mencapai 41°C, anorexia (tidak nafsu makan), menggigil, penurunan produksi susu yang drastis pada sapi perah untuk 2-3 hari.

Selain itu, sapi juga biasanya akan menggosokkan bibir, menggeretakkan gigi, leleran mulut, suka menendangkan kaki yang disebabkan oleh vesikula (lepuh) pada membrane mukosa hidung dan bukal serta antara kuku. Biasanya setelah 24 jam vesikula tersebut rupture/pecah setelah terjadi erosi. Biasanya proses penyembuhan umumnya terjadi antara 8 – 15 hari.

Sementara itu, pada domba dan kambing juga akan terlihat melalui lesi yangkurang terlihat, atau lesi pada kaki bisa juga tidak terlihat. Lesi pada sekitar gigi domba, kematian pada hewan muda.

Pencegahan 
Ada beberapa cara untuk untuk pencegahan untuk Foot and Mouth Disease (FMD). Pertama dengan Biosekuriti. Biosekuriti ini juga terdiri dari beberapa cara, yakni dengan perlindungan pada zona bebas dengan membatasi gerakan hewan, pengawasan lalu lintas dan pelaksanaan surveilans.

Lalu, pemotongan pada hewan terinfeksi, hewan baru sembuh, dan hewan - hewan yang kemungkinan kontak dengan agen PMK. Kemudian kita dapat melakukan desinfeksi asset dan semua material yang terinfeksi, musnahkan bangkai, sampah, dan semua produk hewan pada area yang terinfeksi hingga karantina.

Pencegahan yang kedua adalah dengan cara medis, yakni dengan memberikan vaksin virus aktif yang mengandung adjuvant, pengawasan lalu lintas ternak dan pelarangan pemasukan ternak dari daerah tertular.

Selain itu, kaki hewan yang terinfeksi di terapi dengan chloramphenicol atau bisa juga diberikan larutan cupri sulfat. Kita juga dapat melakukan pemotongan dan pembuangan jaringan tubuh hewan yang terinfeksi.Injeksi intravena preparat sulfadimidine juga diklaim efektif.

Selama dilakukan pengobatan, hewan yang terserang penyakit harus dipisahkan dari hewan yang sehat (dikarantina).Hewan tidak terinfeksi harus ditempatkan pada lokasi yang kering dan dibiarkan bebas jalan-jalan serta diberi pakan cukup untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya.

Editor: Irfan Nasution

Sumber: Pertanian.go.id, Kemkes.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X